Senin, 10 Juni 2013

Konsumsi kenari Terkait dengan Risiko rendah dari Diabetes Tipe 2 pada Wanita

Walnut Consumption Is Associated with Lower Risk of Type 2 Diabetes in Women

    Sebuah Pan3, 5,
    
Qi Sun3, 6,
    
JoAnn E. Manson3, 4,7,
    
Walter C. Willett3, 4,6, dan
    
Frank B. HU3, 4,6, *
+ Afiliasi Penulis

    
3 Departemen Gizi, dan
    
4Department of Epidemiology, Harvard School of Public Health, Boston, MA
    
5Saw Swee Hock Sekolah Kesehatan Masyarakat dan Yong Loo Lin School of Medicine, National University of Singapore dan National University Health System, Singapura, dan
    
6Channing Divisi Kedokteran Jaringan, dan
    
7Division of Preventive Medicine, Departemen Kedokteran, Brigham dan Rumah Sakit Wanita dan Harvard Medical School, Boston, MA

    
↵ * Kepada siapa korespondensi harus ditangani. E-mail: frank.hu @ channing.harvard.edu.
Abstrak
Kenari kaya akan asam lemak tak jenuh ganda dan telah terbukti untuk meningkatkan berbagai faktor risiko kardiometabolik. Kami bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan kenari dan diabetes tipe 2 pada insiden 2 studi kohort besar: Nurses 'Health Study (NHS) dan NHS II. Kami prospektif diikuti 58.063 wanita berusia 52-77 y di NHS (1998-2008) dan 79.893 wanita berusia 35-52 y di NHS II (1999-2009) tanpa diabetes, penyakit jantung, atau kanker pada awal. Konsumsi kenari dan kacang-kacangan lainnya dinilai setiap 4 y menggunakan kuesioner frekuensi makanan divalidasi. Diabetes yang dilaporkan sendiri tipe 2 telah dikonfirmasi oleh kuesioner tambahan divalidasi. Kami mendokumentasikan total 5930 tipe 2 kasus diabetes insiden selama 10 tahun follow-up. Dalam multivariabel yang disesuaikan Cox proportional hazards model yang tanpa indeks massa tubuh (BMI), konsumsi kenari dikaitkan dengan rendahnya risiko diabetes tipe 2, dan HR (95% CI) bagi peserta mengkonsumsi 1-3 porsi / mo (1 porsi = 28 g), 1 porsi / minggu, dan ≥ 2 porsi / minggu kenari adalah 0,93 (0,88-0,99), 0,81 (0,70-0,94), dan 0,67 (0,54-0,82) dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah / jarang dikonsumsi kenari ( P-trend <0,001). Penyesuaian lebih lanjut untuk diperbarui BMI sedikit dilemahkan asosiasi dan HR (95% CI) adalah 0,96 (0,90-1,02), 0,87 (0,75-1,01), dan 0,76 (0,62-0,94), masing-masing (P-trend = 0,002). Konsumsi total kacang (P-trend <0,001) dan kacang-kacangan pohon lainnya (P-trend = 0,03) juga berbanding terbalik dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2, dan asosiasi sebagian besar dijelaskan oleh BMI. Hasil kami menunjukkan bahwa konsumsi kenari yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko signifikan lebih rendah terkena diabetes tipe 2 pada wanita. (Translate by : Juniarta Dwi Ranti)

Modifikasi Piramida Makanan untuk Dewasa

Modified MyPyramid for Older Adults

    
Alice H. Lichtenstein *,
    
Helen Rasmussen,
    
Winifred W. Yu,
    
Susanna R. Epstein, dan
    
Robert M. Russell
+ Afiliasi Penulis

    
Jean Mayer USDA Human Nutrition Research Center on Aging, Tufts University, Boston, MA 02111

    
↵ * Kepada siapa korespondensi harus ditangani. E-mail: alice.lichtenstein @ tufts.edu.
Abstrak
Pada tahun 1999 kami mengusulkan Modified Food Panduan Piramida untuk orang dewasa berusia 70 + y. Ini telah banyak digunakan dalam berbagai pengaturan dan format untuk menyoroti tantangan diet unik dewasa yang lebih tua. Kita sekarang mengusulkan MyPyramid Dimodifikasi untuk Dewasa Lama dalam format yang konsisten dengan MyPyramid grafis. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan MyPyramid, yang merupakan program berbasis internet multifungsi yang memungkinkan untuk perhitungan individual berbasis makanan diet bimbingan dan memberikan informasi tambahan pada pilihan makanan dan persiapan. Masalah pedagogik yang terkait dengan ketersediaan komputer, akses Web, dan melek internet dewasa yang lebih tua menunjukkan versi grafis MyPyramid diperlukan. Ditekankan adalah biji-bijian dan berbagai dalam kelompok biji-bijian, variasi dan kepadatan nutrisi, dengan penekanan khusus pada berbagai bentuk sangat cocok dengan kebutuhan orang dewasa '(misalnya beku) dalam sayuran dan buah-buahan kelompok, bentuk rendah lemak dan non-lemak susu produk termasuk mengurangi alternatif laktosa pada kelompok susu, rendah lemak jenuh dan trans fat pilihan dalam kelompok minyak, dan rendah lemak jenuh dan sayuran pilihan dalam daging dan kelompok kacang-kacangan. Tema yang mendasari stres gizi dan makanan kaya serat dalam setiap kelompok dan makanan sumber nutrisi daripada suplemen. Ikon aktivitas fisik cairan dan berfungsi sebagai dasar MyPyramid untuk Dewasa Lama. Sebuah bendera untuk mempertahankan kesadaran akan potensi perlu mempertimbangkan bentuk suplemen kalsium, dan vitamin D dan B-12 ditempatkan di bagian atas piramida. Dibahas kekhawatiran baru tentang potensi kelebihan gizi dalam lanskap pangan saat ini tersedia untuk orang dewasa yang lebih tua.

(Translate by : Juniarta Dwi Ranti)

Vitamin A Suplementasi Meningkatkan Respon kekebalan Bayi 'untuk Hepatitis B Vaksin tetapi Tidak Mempengaruhi Responses to Haemophilus influenzae tipe b Vaccine1, 2

Vitamin A Supplementation Enhances Infants' Immune Responses to Hepatitis B Vaccine but Does Not Affect Responses to Haemophilus influenzae Type b Vaccine


    
Sam Newton
    
Seth Owusu-Agyei,
    
William Ampofo,
    
Charles Zandoh,
    
Martin Adjuik,
    
George Adjei,
    
Samuel Tchum,
    
Suzanne Filteau, dan
    
Betty R. Kirkwood+ Afiliasi Penulis

    
3Kintampo Health Research Centre, Kintampo, Ghana, 4London School of Hygiene dan Tropical Medicine, London, Inggris; 5Noguchi Memorial Institute for Medical Research, Accra, Ghana, dan 6Navrongo Health Research Centre, Navrongo, Ghana

    
↵ * Kepada siapa korespondensi harus ditangani. E-mail: sam.newton @ ghana-khrc.org.AbstrakSuplementasi vitamin A mengurangi kematian anak dan morbiditas berat di negara-negara kurang berkembang, dan Program Perluasan pada Imunisasi (EPI) menawarkan kesempatan yang ideal untuk memberikan suplemen di negara berkembang. Vitamin dosis tinggi vitamin A telah terbukti tidak berpengaruh pada imunogenisitas vaksin polio oral, toksoid tetanus, pertusis, atau vaksin campak diberikan pada 9 mo, tapi efek negatif pada vaksin campak diberikan pada 6 bulan dan efek potentiating pada vaksin difteri. Efeknya pada respon antibodi terhadap hepatitis B dan Haemophilus influenzae tipe b antigen belum ditetapkan. Untuk menilai efek ini, percobaan ini dilakukan di distrik Offinso Ghana, 1.077 bayi yang terdaftar segera setelah lahir dan acak baik untuk menerima atau tidak menerima 15 mg retinol setara dengan vitamin A bersama-sama dengan pentavalent "difteri-polio tetanus-Haemophilus influenzae b-hepatitis "Vaksin B pada 6, 10, dan 14 minggu usia. Semua ibu menerima suplemen postpartum dari 120 mg retinol setara vitamin A sesuai dengan kebijakan nasional. Sampel darah diambil dari bayi pada 6 dan 18 minggu usia. Hasil didasarkan pada 888 bayi (82,4%) yang menyelesaikan persidangan. Suplementasi vitamin A tidak mempengaruhi respon kekebalan terhadap Haemophilus influenzae tipe b, tapi ada peningkatan yang signifikan dalam respon kekebalan terhadap vaksin hepatitis B (93,9 vs 90,2%, P = 0,04). Namun, mengingat tingginya persentase bayi dengan seroprotection pada kelompok kontrol, diragukan bahwa dimasukkannya vitamin A dalam EPI akan dibenarkan atas dasar ini saja.

(Translate by : Juniarta Dwi Ranti)

Konsumsi gula-manis minuman dan perkembangan penyakit ginjal kronis dalam Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA) 1,2,3


Sugar-sweetened beverage consumption and the progression of chronic kidney disease in the Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA)1,2,3

    Andrew S Bomback,
    
Ronit Katz,
    
Ka He,
    
David A Shoham,
    
Gregory L Burke, dan
    
Philip J Klemmer
+ Afiliasi Penulis

    
1From Departemen Kedokteran, Divisi Nefrologi, Columbia University Medical Center, New York, NY (ASB), Departemen biostatistik, University of Washington School of Public Health, Seattle, WA (RK), Departemen Epidemiologi dan Gizi ( KH), University of North Carolina, Gillings School of Global Public Health, Chapel Hill, NC, Departemen Preventive Medicine dan Epidemiologi, Stritch School of Medicine, Universitas Loyola Chicago, Maywood, IL (DAS), Divisi Ilmu Kesehatan Masyarakat , Wake Forest University Health Sciences, Winston-Salem, NC (GLB), dan Departemen Kedokteran, Divisi Nefrologi dan Hipertensi, University of North Carolina School of Medicine, Chapel Hill, NC (PJK).
+ Catatan Penulis

    
↵ 2 Didukung oleh kontrak N01-HC-95159 melalui N01-HC-95.169 dari National Heart, Lung, dan Darah Institute.

    
↵ 3 Alamat permintaan cetak ulang dan korespondensi ke AS Bomback, Columbia University, Divisi Nefrologi, 622 Barat 168th Street, PH 4-124, New York, NY 10032. E-mail: asb68@columbia.edu.
Abstrak
Latar Belakang: Penelitian terbaru telah meneliti konsumsi soda gula dalam kaitannya dengan tanda awal penyakit ginjal, namun sampai saat ini belum ada penyelidikan apakah pemanis gula konsumsi minuman mempengaruhi penyakit ginjal kronis praeksisten (CKD).
Tujuan: Penelitian kohort prospektif dari 447 peserta dalam Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA) dengan CKD praeksisten meneliti hubungan antara konsumsi minuman pemanis gula (<1 minum / minggu, 1-6 minuman / minggu, dan ≥ 1 minuman / d) dan perkembangan CKD.
Desain: β-Koefisien untuk hasil berkelanjutan perubahan eGFR dan albumin urin terhadap kreatinin (UACR) dihitung dengan menggunakan regresi linier. Odds ratio untuk hasil biner penurunan dipercepat dalam estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR), didefinisikan sebagai> 2 mL · min-1 · 1,73 m-2 per tahun, dan secara klinis perkembangan signifikan albuminuria (didefinisikan sebagai pencapaian UACR ≥ 30 mg / g untuk peserta tanpa mikroalbuminuria pada kunjungan 1 atau peningkatan ≥ 25% pada UACR untuk peserta dengan dasar mikroalbuminuria) dievaluasi dengan menggunakan regresi logistik.
Hasil: Rerata (± SD) dasar eGFR adalah 52 ± 6 mL ⋅ min-1 ⋅ 1,73 m-2 per tahun dan awal rata-rata adalah 6,3 UACR mg / g (kisaran interkuartil: 3,5-17,6). Analisis univariat dan multivariat menunjukkan tidak ada hubungan antara pemanis gula konsumsi minuman dan tingkat penurunan eGFR atau perubahan albumin urin untuk rasio kreatinin. The multivariat odds ratio membandingkan partisipan yang minum minuman manis ≥ 1 setiap hari dengan mereka yang minum minuman ≤ 1 mingguan adalah 0,62 (95% CI: 0,27, 1,41) untuk penurunan eGFR dipercepat dan 1,51 (95% CI: 0.49, 4.62) untuk klinis yang signifikan perkembangan albuminuria.
Kesimpulan: Sebuah peningkatan konsumsi minuman manis tidak terkait dengan perkembangan penyakit, atas dasar baik eGFR atau albumin urin untuk rasio kreatinin, pada peserta MESA dengan CKD praeksisten.
(Translate by : Juniarta Dwi Ranti)

selengkapnya di : http://ajcn.nutrition.org/content/early/2009/09/09/ajcn.2009.28111.abstract?cited-by=yes&legid=ajcn;ajcn.2009.28111v1&related-urls=yes&legid=ajcn;ajcn.2009.28111v1

Kemungkinan Manfaat Kacang di Tipe 2 Diabetes1, 2

Possible Benefit of Nuts in Type 2 Diabetes

    
David J. A. Jenkins3-5,
    
Frank B. HU7,
    
Linda C. Tapsell8,
    
Andrea R. Josse3, 5, dan
    
Cyril W. C. Kendall3, 5,6, *
+ Afiliasi Penulis

    
Nutrisi 3Clinical dan Faktor Risiko Modifikasi Center, dan 4Division Endokrinologi dan Metabolisme, Rumah Sakit St Michael, Toronto, Kanada, M5C 2T2, dan 5 Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Toronto, Toronto, Kanada M5S 3E2, 6College Farmasi dan Gizi, Universitas Saskatchewan, Saskatoon, Kanada S7N 5C9, 7Departments Nutrisi dan Epidemiologi, Harvard School of Public Health, Boston, MA 02215, dan 8National Centre of Excellence di Makanan Fungsional, University of Wollongong, Wollongong NSW 2522, Australia

    
↵ * Kepada siapa korespondensi harus ditangani. E-mail: cyril.kendall @ utoronto.ca.

 
Bagian berikutnyaAbstrak
Kacang-kacangan, termasuk kacang tanah, sekarang diakui sebagai memiliki potensi untuk meningkatkan profil lipid darah dan, dalam studi kohort, konsumsi kacang telah dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner (PJK). Baru-baru ini, bunga telah berkembang dalam nilai potensial termasuk kacang dalam diet individu dengan diabetes. Data dari Nurses Health Study menunjukkan bahwa konsumsi kacang sering dikaitkan dengan penurunan risiko terkena diabetes dan penyakit kardiovaskular. Percobaan terkontrol acak dari pasien dengan diabetes tipe 2 telah menegaskan efek menguntungkan dari kacang pada lipid darah juga terlihat pada subjek nondiabetes, tetapi pengadilan belum melaporkan peningkatan A1C atau protein terglikosilasi lainnya. Studi makan akut, bagaimanapun, telah menunjukkan kemampuan kacang, bila dimakan dengan karbohidrat (roti), untuk menekan glikemia postprandial. Selain itu, ada bukti mengurangi stres oksidatif postprandial terkait dengan konsumsi kacang. Dalam hal komposisi makanan, kacang memiliki profil nutrisi yang baik, yang tinggi asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) dan PUFA, dan merupakan sumber yang baik dari protein nabati. Pendirian kacang dalam diet karena itu dapat meningkatkan kualitas gizi keseluruhan diet. Kami menyimpulkan bahwa ada justifikasi untuk mempertimbangkan masuknya kacang dalam diet individu dengan diabetes dalam pandangan potensi mereka untuk mengurangi risiko PJK, meskipun kemampuan mereka untuk mempengaruhi kontrol glikemik keseluruhan masih harus dibentuk.

(Translate by : Juniarta Dwi Ranti) 

selengkapnya di : http://jn.nutrition.org/content/138/9/1752S.full
 
 

Senin, 23 Januari 2012

PENGGUNAAN KAPSUL VITAMIN A DOSIS TINGGI SECARA AMAN

Suplementasi Vitamin A dosis tinggi (200.000 SI atau lebih rendah) yang dilakukan secara berkala kepada anak, dimaksudkan untuk menghimpun cadangan Vitamin A delam hati, agar tidak terjadi kekurangan vitamin A dan akibat buruk yang ditimbulkannya, seperti xeroptalmia, kebutaan dan kematian. Cadangan vitamin A dalam hati ini dapat digunakan sewaktu-waktu bila diperlukan.
Pemberian kapsul vitamin A 200.000 SI kepada anak usia 1-5 tahun dapat emberi perlindungan selama 6 bulan, tergantung berapa banyak vitamin A dari makanan sehari-hari dikonsumsi oleh anak dan penggunaannya dalam tubuh.
TANYA JAWAB TENTANG HIPERVITAMINOSIS VITAMIN A
1.a. Apakah kapsul vitamin A 200.000 SI berbahaya bila diberikan kepada anak umur 1 tahun yang telah cukup mengkonsumsi makanan-makanan sumber vitamin A ?
Tidak. Pada anak-anak, dosis tunggal vitamin A 200.000 SI masih dibawah maksimum daya simpan hati. Kira-kira 50 % dari dosis yang akan disimpan dalam tubuh anak.
1.b Apakah pemberian itu justru akan menolong?
Ya, untuk mencegah kekurangan vitamin A dan akibat-akibatnya termasuk xeroftalmia dan meningkatnya kemaian, sekiranya masukan suplai vitamin A melalui makanan menurun oleh karena berkurangnya nafsu makan, karena sakit. Setelah beberapa waktu menderita kekurangan vitamin A dan/atau menderita penyakit infeksi, cadangan vitamin A yang ada dalam hati cepat sekali terkuras
2.a. Jika seorang anak umur 1 tahun telapak tangannya kekuning-kuningan apakah ini tanda kebanyakan karoten ?
Hal itu merupakan suatu kemungkinan, tetapi sangat jarang terjadi, bahwa pada umur tersebut seorang anak dapat/akan mengkonsumsi karoten dalam jumlah yang dapat menyebabkan perubahan warna kulit.
2. Apakah kapsul vitamin A dosis 200.000 SI membahayakan?
Tidak. Suplemen kapsul vitamin A dosis tunggal 200.000 SI tidak akan membahayakan, meskipun konsumsi karoten anak tersebut telah tinggi. Hypervitaminosis tidak disebabkan karena kebanyakan konsumsi karotenoid, terutama sekali karena rendahnya tingkat konversi karotenoid menjadi vitamin A.
Catatan :
Ada berbagai bentuk vitamin A. Bentuk jadi vitamin A (retinol) terdapat pada mamalia dan ikan. Karotenoid adalah bentuk provitamin A yang terdapat dalam sayur-sayuran daun berwarna hijau tua dan beberapa buah-buahab berwarna, yang didalam didinding usus diubah menjadi vitamin A aktif. Karotenoid tidak toksis tetapi dapat mewarnai jaringan lemak dan menyebabkan kulit berwarna kekuning-kuningan apabila dikonsumsi dalam dosis yang sangat besar dan dalam jangka waktu yang lama.
3. Apakah kapsul vitamin A 200.000 SI berbahaya bagi anak umur 1 tahun yang menderita penyakit kuning (jaundice)?
Tidak. Kapsul vitamin A 200.000 SI tidak membahayakan anak umur 1 tahun yang menderita penyakit kuning. Penyakit kuning disebabkan karena kerusakan sel-sel darah merah dalam jumlah yang berlebihan, peradangan hati dan/atau penyumbatan dalam hati. Pada semua tipe penyakit kuning, pengobatan harus ditujukan kepada penyebabnya, bukan pada gejalanya. Suplementasi vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, dianjurkan.
4. Apa yang akan terjadi bila bayi umur 6 bulan mendapat vitamin A 200.000 SI ?
Bayi umur dibawah 6 yang mendapat dosis tunggal lebih dari 100.000 SI mungkin akan mengalami penonjolan ubun-ubun (bagian lunak pada kepala bayi). Tetapi keadaan ini hanya terjadi pada sebagian kecil bayi (<1%). Penonjolan ini akan membantu menghilangkan tekanan intrakranial yang hanya sedikit meningkat. Tanda-tanda ini hanya sementara dan hilang dalam waktu 2 hari. Jika anak mengkonsumsi vitamin A dosis lebih dari 200.000 SI, maka anak akan merasa agak mual, muntah atau sakit kepala. Hasil ini terjadi pada 5-20 % anak-anak yang mendapat 300.000 SI – 400.000 SI sekali minum. Dosis yang lebih besar dalam jangka waktu yang lebih sering dapat menimbulkan efek samping dan harus dihindari
5. Pemberian vitamin A dosis 50.000 IU kepada bayi umur 6 minggu katanya dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat disembuhkan. Apakah betul ?
Pedoman WHO (“Field guide to the detection and control of Xerophthalmia, WHO, 1982”) menganjurkan agar anak-anak diberi vitamin A 50.000 IU pada saat lahir (atau 25.000 IU pada kunjungan EPI (kontak imunisasi), yaitu 4 kali dalam umur 6 bulan pertama) untuk mencegah kekurangan vitamin A dan meningkatkan cadangan vitamin A dalam hati.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian vitamin A 50.000 IU dosis tunggal kepada anak -anak di bawah umur 1 bulan tidak menunjukkan, bahwa efek samping. Khususnya, data yang diperoleh dari ribuan anak-anak di Nepal menunjukkan bahwa neonatus (umur < 1 bulan) tahan terhadap dosis tunggal 50.000 IU tanpa tanda-tanda terjadi efek kelebihan. Hanya sedikit sekali dari bayi-bayi usia 1-5 bulan yang mendapat dua kali jumlah ini (100.000 IU sebagai dosis tunggal) yang menunjukkan sedikit penonjolan ubun-ubun (+0.5 %) dan muntah-muntah (+2.0 %). Efek samping terjadi hanya untuk sementara.
6. Apakah bayi dapat mengalami kelebihan vitamin dari ASI, sekiranya ibunya mengkonsumsi terlalu banyak vitamin A ?
Tidak. Telah dibuktikan bahwa ibu menyusui serta bayinya akan memperoleh keuntungan jika ibu mendapat vitamin A oral 200.000 IU dosis tunggal segera setelah melahirkan (dalam waktu 1 bulan/masa nifas) Ini akan menjamin jumlah vitamin A yang cukup dalam ASI untuk membantu memenuhi kebutuhan anak. Jumlah vitamin A dalam ASI tidak akan mencapai kadar yang membahayakan bagi bayi, betapa banyakpun bayi itu disusui. Karena itu kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000) IU harus diberikan kepada ibu nifas.
Catatan
Meskipun konsumsi dan kadar serum vitamin A dari ibu cukup, konsentrasi vitamin A (retinol dan karoten) dalam ASI akan menurun setelah beberapa lama menyusui dan penurunan terbesar terjadi pada awal masa laktasi.
7. Jika ibu hamil mengkonsumsi terlalu banyak vitamin A, apakah ada resiko terhadap janinnya?
Ada kemungkinan terjadi resiko pada janin, bila si ibu mengkonsumsi vitamin A dalam jumlah yang berlebihan, terutama pada trimester pertama. Hasil percobaan binatang menunjukkan terjadi cacat bawaan, baik akibat hipovitaminosis maupun hipervitaminosis A selama kehamilan; tetapi pada manusia hasil tersebut secara statistik tidak bermakna.
Meskipun demikian, mengingat adanya data tentang akibat tersebut diatas, baik pada manusia maupun hewan, bagi wanita-wanita usia subur yang mungkin sedang hamil (misalnya bila telah lebih 6 bulan setelah kelahiran bayi terakhir), sebaiknya hanya mengkonsumsi vitamin A dengan kadar yang secukupnya saja.
8. Apakah vitamin A aman diberikan kepada wanita hamil?
Vitamin A dosis tinggi tidak dianjurkan untuk diberikan kepada wanita hamil. Untuk menjaga kesehatan dapat diberikan dosis kecil, yaitu yang tidak melebihi 10.000 IU per hari.
9. Bagaimana dengan wanita hamil yang menderita bercak Bitot atau gejala lain dari xeroftalmia?
Jika wanita hamil menderita rabun senja atau bercak Bitot, ia harus mendapat vitamin A oral 10.000 IU tiap hari paling sedikit selama 2 minggu.
Bila terjadi xeroftalmia dengan lesi kornea yang aktif pada wanita usia subur atau pada wanita yang mungkin sedang hamil, harus dipertimbangkan antara resiko yang mungkin terjadi pada bayi akibat vitamin A dosis tinggi, dan akibat serius kekurangan vitamin A pada ibu bila ibu tidak mendapat vitamin A dosis tinggi. Menurut WHO, UNICEF dan IVACG, adalah beralasan bahwa dalam keadaan seperti ini ibu segera diberi vitamin A 200.000 IU
10. Sebagai seorang dokter dan pengelola program vitamin A, apa yang harus diketahui tentang frekuensi suplementasi vitamin A/distribusi?
Setiap anak yang membutuhkan vitamin A harus mendapat vitamin A. Ini termasuk juga anak-anak dalam masa pertumbuhan yang seharusnya mendapat vitamin A setiap 6 bulan sekali. Perlu ditambahkan, ini juga termasuk anak-anak yang beresiko tinggi, misalnya terhadap diare yang kronis, campak dan lain-lain. Sebagai contoh, seorang anak yang menderita campak dan telah mendapatkan vitamin A dosis 200.000 IU bulan yang lalu harus mendapatkan tambahan 1 kapsul vitamin A 200.000 IU dan bila perlu diberikan 1 kapsul lagi hari berikutnya. Hal ini akan meningkatkan proses penyembuhan anak dan mencegah kekurangan vitamin A serta komplikasinya.
11. Kapan “hipervitaminosis” atau kelebihan vitamin A dapat terjadi ?
Hipervitaminosis akut
Jika anak umur 1-5 tahun menkonsumsi lebih dari 300.000 IU dosis tunggal, maka mungkin akan menderita mual, sakit kepala dan anoreksia
Hipervitaminosis kronis
Bayi dan anak usia muda dapat menderita hipervitaminosis kronis, jika mereka megkonsumsi lebih dari 25.000 IU tiap hari selama lebih dari 3 bulan baik yang berasal dari makanan maupun dari pemberian suplemen vitamin.
12. Bagaimana tanda-tanda atau gejala-gejala hipervitaminosis vitamin A?
Hipervitaminosis vitamin A
Suatu kondisi dimana kadar vitamin A dalam darah atau jaringan tubuh begitu tinggi sehingga menyebabkan timbulnya gejala-gejala yang tidak diinginkan
Hipervitaminosis akut
Disebabkan karena pemberian dosis tunggal vitamin A yang sangat besar, atau pemberian berulang dosis tunggal yang lebih kecil tetapi masih termasuk dosis besar karena dikonsumsi dalam periode 1-2 hari.
Hipervitaminosis A akut
Pada bayi dan anak-anak biasanya terjadi dalam waktu 24 jam. Pada beberapa anak, mengkonsumsi dosis 300.000 IU atau lebih dapat menyebabkan mual, muntah dan sakit kepala. Penonjolan ubun-ubun dapat terjadi pada bayi umur kurang dari 1 tahun yang mengkonsumsi dosis yang sangat besar. tetapi ini ringan dan akan hilang seketika dalam waktu 1-2 hari. Pengobatannya adalah menghentikan suplementasi vitamin A dan pengobatan simptomatis.
Hipervitaminosis kronis
Disebabkan karena mengkonsumsi dosis tinggi yang berulang-ulang dalam waktu beberapa bulan atau beberapa tahun. Keadaan ini biasanya hanya terjadi pada orang dewasa yang mengatur pengobatannya sendiri.
Hipervitaminosis A kronis
Pada anak-anak usia muda dan bayi biasanya menyebabkan anoreksia (tidak nafsu makan), kulit kering, gatal dan kemerahan, peningkatan tekanan intra-kranial, bibir pecah-pecah, tungkai dan lengan lemah dan membengkak. Pengobatannya adalah menghentikan suplementasi vitamin A dan pengobatan simptomatis. Disamping itu hendaknya terhadap kemungkinan penyakit lain yang dapat merupakan penyebabnya.
13. Jika seseorang mengkonsumsi vitamin A dosis tinggi yang melebihi 200.000 IU, apa yang terjadi pada vitamin A yang berlebih tersebut dalam tubuh?
Sebagian besar dari vitamin A yang berlebih tersebut dalam bentuk yang tidak berubah akan dikeluarkan melalui air seni dan tinja, selebihnya disimpan dalam hati.
Dalam kasus-kasus khusus (jarang terjadi), pemberian vitamin A jangka panjang akan menyebabkan simpanan dalam hati menjadi jenuh, kadar vitamin A dalam hati dan darah akan tetap tinggi sampai tubuh menggunakan kelebihan vitamin A tersebut.
14. Apakah akan terjadi kerusakan hati yang permanen akibat vitamin A dosis tinggi?
Dengan dosis yang sangat tinggi lebih dari berbulan-bulan atau bertahun-tahun, hati dapat membesar dan berlemak. Namun demikian, hati akan kembali normal, begitu suplementasi vitamin A yang berlebihan tersebut dihentikan.
15. Berapa banyak kapsul vitamin A 200.000 IU yang ditelan sekaligus, yang dianggap toksis untuk anak umur 1 tahun yang “intake” vitamin A-nya cukup; dan untuk yang kekurangan vitamin A?
Anak umur 1 tahun tidak diberi dalam bentuk kapsul, kapsul harus dipotong dan dipencet hingga semua isinya masuk dalam mulut anak. Dengan demikian untuk menelan beberapa kapsul sekaligus tampaknya tidak akan terjadi. Pemberian isi dua kapsul sekaligus dapat menyebabkan efek samping. Efek samping ini tidak serius dan hanya bersifat sementara, baik pada anak yang kekurangan vitamin A maupun yang tidak. Namun demikan harus diusahakan agar tidak sampai memberikan 2 kapsul sekaligus.
16. Bagaimana jika umur 1 tahun menerima 2 kapsul vitamin A 200.000 IU dalam satu bulan atau dalam 24 jam?
Anak tidak akan menderita efek samping jika mendapat 2 kapsul dalam satu bulan (lihat no. 15 diatas). Anak-anak dengan xeroftalmia perlu 1 kapsul pada hari pertama dan 1 kapsul lagi pada hari kedua, dan 4 minggu kemudian 1 kapsul lagi. Anak-anak dengan campak perlu segera diberikan 1 kapsul 200.000 IU.
Jika anak mendapat 2 dosis dari 200.000 IU dalam 24 jam, anak mungkin menderita pusing, mual dan muntah. Tetapi ini akan hilang dalam 1 sampai 2 hari.
17. Bagaimana bila anak umur satu tahun menelan 10 kapsul sekaligus ?
Vitamin A 2.000.000 IU merupakan penyebab hipervitaminosis akut dan akan menyebabkan sakit kepala, pusing, mual, muntah dan anoreksia (tidak nafsu makan) yang berat. Hal ini tampaknya dalam prakteknya (pelaksanaannya) tidak akan terjadi. Ingat, kebanyakan anak umur ini tidak mengkonsumsi dalam bentuk kapsul; dan keluarga juga tidak menyimpan/mempunyai persediaan kapsul dalam jumlah besar yang mungkin dapat diambil anak
18. Berapa lama tanda-tanda atau gejala-gejala ini akan hilang setelah konsumsi vitamin A diberhentikan ?
Akut: Gejala-gejala biasanya sementara dan akan hilang dalam waktu 2 hari
Kronis: Masalah yang tampak sebagian besar akan hilang dalam waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan
19. Saya seorang perawat, kalau saya menemui kasus dengan gejala kemungkinan (dugaan) hipervitaminosis vitamin A, bagaimana saya mengatasinya ?
Kemungkinan beasr anda tidak akan melihat kasus kelebihan dosis vitamin A. Akan tetapi kalau anda menemui kasus ini, hentikan saja pemberian vitamin A. Gejala-gejala hipervitaminosis vitamin A akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 1-4 hari. Jika fasilitas memungkinkan, sebaiknya dirujuk ke Puskesmas dan dilaporkan.
20. Apakah ada resiko keracunan akibat vitamin A yang telah kadaluarsa dan apakah ada resiko pada anak jika mengkonsumsi vitamin A yang telah kadaluarsa ?
Tanda kadaluarsa produk khusus dari vitamin A yang tercantum pada kemasan menentukan akhir masa simpan dari produk tersebut (“shelf life”). Masa simpan suatu produk menyangkut periode yang telah ditentukan, dalam kondisi penyimpanan yang baik, 90 % dari potensi vitamin A yang ditetapkan masih dapat dijamin.
Idealnya kapsul vitamin A disimpan dalam suhu rendah, misalnya <15°C atau <59°F, dalam wadah yang efektif dapat mencegah terkena sinar matahari (berwarna gelap), oksigen, kelembaban, bahan-bahan oksidasi dan logam-logam.
Kapsul yang telah kadaluarsa tidak membahayakan. Akan tetapi, vitamin dalam kapsul tersebut mungkin telah berkurang dibawah nilai yang telah ditetapkan, yaitu 90%, tergantung cara penyimpanannya, sehingga tidak lagi efektif seperti yang diharapkan.
Kapsul vitamin A yang telah disimpan lebih dari 2,5 tahun pada suhu 23°C (73,4°F) dalam wadah berwarna gelap yang tertutup masih mengandung > 90% potensi semula. Pada suhu yang lebih tinggi potensi kapsul akan lebih banyak berkurang. Tak ada resiko bila mengkonsumsi kapsul yang telah lama. Akan tetapi dengan berlalunya waktu, kadar vitamin A akan makin berkurang, sehingga menjadi kurang efektif.
21. Bagaimana kita dapat menentukan kapan botol yang berisi kapsul yang telah kadaluarsa harus dibuang?
Jika dijumpai perubahan fisik pada kapsul vitamin A seperti berjamur, lembik atau saling melengket dan sulit dipisahkan satu sama lain, walaupun belum kadaluarsa sebaiknya tidak digunakan.
Jika anda mempunyai suplai kapsul vitamin A dalam botol dengan jumlah yang besar, yang sudah 1 atau 2 tahun lebih dari tanggal kadaluarsa, sebaiknya dilakukan pemeriksaan laboratorium tentang kadar retinolnya. Ini dibenarkan jika menyangkut jumlah kapsul yang besar karena biaya analisa untuk satu kapsul sama mahalnya dengan harga 3000 kapsul. Karena itu keputusan untuk melakukan analisa potensi hanya dapat dilakukan ditingkat kabupaten/propinsi/pusat.
Akan tetapi, jika tidak dilakukan pemeriksaan kadar vitamin A, maka kapsul yang dibagikan tersebut potensinya mungkin telah berkurang meskipun masih efektif untuk mencegah xeroftalmia (walaupun untuk jangka waktu yang lebih pendek)
22. Apakah pernah terjadi kematian yang secara ilmiah ternyata disebabkan karena terlalu banyak vitamin A?
Belum pernah dilaporkan terdapatnya kasus kematian akibat keracunan vitamin A pada manusia. Perlu diingat bahwa kekurangan vitamin A justru merupakan faktor besar dalam kematian anak, yang dapat dengan mudah diatasi dengan pemberian satu kapsul vitamin A dosis tinggi tiap 6 bulan sekali pada anak usia 1 - 5 tahun

Senin, 16 Januari 2012

Kekurangan Energi Protein (KEP)




Perbaikan keadaan gizi penting  untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil, menurunkan angka kematian bayi dan balita, meningkatkan kemampuan tumbuh kembang fisik, mental dan sosial  anak,  dan untuk meningkatkan produktifitas kerja serta  prestasi akademik. Oleh  karena itu keadaan gizi merupakan salah satu ukuran penting dari kualitas sumber daya manusia.
Upaya perbaikan gizi  telah lama  dilaksanakan  oleh pemerintah Indonesia, melalui Departemen Kesehatan,  sejak Pelita I sampai dengan Pelita VI. Upaya ini terutama diarahkan untuk menanggulangi  4  (empat) masalah gizi utama di Indonesia, yaitu : Kurang Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Anemia  Gizi  Besi  dan Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI). Khusus mengenai KEP, pada Repelita VI pemerintah bersama masyarakat berupaya menurunkan prevalensi KEP  dari  40 % menjadi 30 %. Sasaran ini merupakan  bukti  komitmen nyata bangsa Indonesia terhadap Konvensi mengenai  Hak-hak Anak tahun 1989, yang  pada tahun 1997 diratifikasi oleh 191 negara anggota WHO. Dalam konvensi ini hak anak  untuk mendapatkan  kecukupan gizi memperoleh pengakuan penuh, dan kecukupan ini harus diperhatikan sejak dini, bahkan sejak pembuahan agar bayi bisa berkembang secara  sehat dan optimal.
Penyakit Kurang Energi Protein (KEP) merupakan bentuk  malnutrisi yang terdapat terutama pada anak-anak  di bawah umur 5 tahun dan  kebanyakan di  negara-negara sedang bekembang. Bentuk KEP berat  memberi gambaran klinis yang  khas, misalnya bentuk kwashiorkor,  bentuk marasmus atau  bentuk campuran  kwashiorkor marasmus. Pada  kenyataannya  sebagian  besar penyakit KEP terdapat  dalam bentuk ringan.  Gejala  penyakit KEP ringan ini tidak  jelas, hanya terlihat bahwa berat badan anak lebih rendah jika dibandingkan dengan  anak seumurnya. Berdasarkan hasil penyelidikan di 254 desa di seluruh  Indonesia, Tarwotjo, dkk (1978), memperkirakan bahwa 30 % atau 9 juta diantara anak-anak  balita menderita gizi kurang, sedangkan 3 % atau 0,9 juta anak-anak balita menderita gizi buruk.

download selengkap nya di
http://www.ziddu.com/download/18267395/05_KarakteristikBalitaKEP.pdf.html